Harapan Ibu Milenial untuk Mendikbud yang Baru

Ketika ada rumor kalau Nadhiem Makarim akan menjadi menteri di kabinet pak Jokowi, aku nggak terlalu kaget sih. Karena memang Pak Jokowi kan orangnya pengen menteri-menterinya inovatif, kreatif, dll dll. Nadhiem kan termasuk orang yang inovatif dan kreatif, jadi nggak ada salahnya dipilih sebagai menteri.

Tapi yang bikin aku cukup kaget adalah saat Pak Jokowi memilih Nadhiem sebagai menteri pendidikan. Wow beneran nih?! Aku kira bakal diangkat jadi menteri ekonomi kreatif atau apa gitu yang berhubungan dengan inovasi kreatif. Tapi ternyata jadi mendikbud.

Karena anakku akan mulai bersekolah kurang lebih 5 tahun lagi, aku jadi was was dong. Karena aku mikirnya kan Nadhiem nggak ada background pendidikan ya. Apa bisa dia memberikan solusi yang ‘disruptive’ buat pendidikan Indonesia?

Terus kebetulan seliweran paparan Nadhiem di Hari Oeang tahun lalu. Dalam paparannya, dia menjelaskan bahwa beberapa hal yang bisa mendukung perkembangan Indonesia adalah kemampuan bahasa, Pemrograman dan Koding komputer, Mentorship dan Coacing, serta Statistik dan Psikologi.

Setelah mendengar paparan dari Nadhiem, aku merasa ‘klik’. Karena kebetulan semua yang dipaparkan adalah uneg-uneg ku juga selama 1 tahun kebelakang. Misalnya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Ini ada bagusnya loh. Karena kan kita bersaing secara Global, ya pasti perlu bahasa Inggris untuk komunikasi. Kemudian untuk pemrograman dan koding, kebetulan aku sangat setuju soal ini karena ya kalimat ‘koding adalah bahasa masa depan’ menurutku cukup relevan.

Mentorship dan coaching, di sini Nadhiem menyebutkan bahwa boleh saja memanggil orang-orang yang ahli di bidangnya dari seluruh dunia untuk transfer ilmu dan menciptakan ekosistemdi Indonesia. Lagi-lagi aku setuju. Karena ya gimana sih kita mau belajar jadi lebih pinter kalau gurunya aja nggak ada? gimana mau berkembang jadi lebih ahli kalau ekosistemnya tidak terbentuk?

Tapi dari semua paparan di atas, yang paling bikin aku optimis sama Nadhiem jadi menteri pendidikan adalah wawancara setelah pelantikan. Nadhiem bilang kalau dia ingin me-link-an atau bahasa gampangnya menghubungkan pendidikan di Indonesia dengan Industri-Industrinya. Langsung dong aku senang. Karena itu juga termasuk uneg-uneg di hatiku selama 1 tahun belakangan.

Maksudnya adalah, Indonesia ini lulusan dan pekerjaan sangat tidak nyambung loh. Kampusnya bagus dengan jurusan yang bergengsi, tapi industri tidak siap menerima lulusan dari jurusan bergengsi. Karena simply lapangan pekerjaannya tidak tersedia atau kalaupun ada, lulusan kita kalah dengan lulusan luar negeri yang ekosistemnya lebih maju. Akhirnya dari jurusan keren macam botanical engineering kalau lulus ya susah cari kerja di Indonesia. Kalau nggak ya akhirnya kerja di bank. Sayang kan itu otaknya yang udah terlanjur pinter.

Dari sini, aku langsung sadar. Nggak perlu orang ahli di bidang pendidikan buat bisa memberi perubahan di pendidikan Indonesia. Wong buktinya selama bertahun-tahun kebelakang dipimpin oleh menteri yang paham banget soal pendidikan dengan gelar panjang lebar juga pendidikan di Indonesia gini gini aja (iya ini nyindir organisasi yang kemarin bilang kecewa kenapa nggak dijadiin mendikbud). Jadi tidak ada salahnya kan berubah sedikit demi Indonesia yang lebih baik?

Sebagai Ibu Milenial yang anaknya mulai sekolah kurang lebih 5 tahun lagi, aku punya beberapa harapan untuk Mas Mendikbud yang baru. Beberapa di antaranya adalah:

1. Kurikulum Inovatif

Aku berharap agar lebih banyak variasi kurikulum yang diakui skala nasional di pendidikan Indonesia. Karena jujur saja, tidak semua anak bisa belajar dengan duduk, diam, mendengarkan, dan menghapal. Kalau cuma duduk, diam, menghapal, sudah ada robot mbah Google yang melakukan. Output pendidikan Indonesia kalau bisa harus ‘lebih pintar dari Google’. Kalau nggak bisa menghapal segitu banyak informasi, minimal jadi orang yang bisa bikin Google. gitulah analogi ngaconya.

Tapi serius, aku berharap banget kalau kurikulum Indonesia lebih bervariasi. Terutama kurikulum yang mengikuti gaya belajar anak, critical thinking, dan skill based curriculum.  Bukan karena kurikulum nasional itu jelek ya. Tapi Kalau variasi kurikulum ini ada di sekolah-sekolah negeri, tentunya para orang tua milenial macam aku nih lebih leluasa memberikan pilihan untuk anak. Jadi nggak perlu ke sekolah swasta yang harganya bisa 5 kali lipat sekolah negeri kan???? Halooo dana pendidikan????

2. Tenaga Pengajar Berkualitas

Sebagai lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, aku sedikit banyak mengerti loh gimana rasanya jadi guru. Apalagi guru di sekolah negeri. Banyak sekali sertifikasi, pelatihan, laporan-laporan yang harus dikerjakan guru. Akhirnya ya waktu para guru ini habis untuk menurus surat-surat. Nggak sempat mikir ngajar apa, ngajar gimana, muridku gimana. Mereka sudah keburu capek dengan pelatihan dan persyaratan ini itu.

Bandingkan dengan guru sekolah Swasta. Tugas tertulis seperti laporan atau rapot memang ada, tapi waktu mereka tidak diburu untuk urusan hal tersebut. Apalagi kalau sekolah swastanya bagus ya. guru-gurunya fokus kepada murid. Urusan paper work itu nomor 2. Yang penting muridnya bisa.

Jadi harapanku, semoga tenaga pengajar tidak melulu dikejar urusan ‘kertas’ sehingga lebih bisa fokus kepada murid dan mengajar dengan tenang. Apalagi kalau sekolah negeri tuh muridnya 30 lebih dengan 1 guru tiap mata pelajaran. Keburu capek Bu Guru dan Pak Gurunya. 🙁

Nggak masalah kok kalau harus ambil guru dari luar negeri. Selama transfer ilmunya berhasil dan sukses. Karena kalau sukses dan jadi pintar, kita juga kan yang untung.

3. Penjurusan Berdasarkan Skill

Untuk satu ini, memang harus ada kerja sama dengan pihak orang tua siswa tentang apa bakat dari si anak. Selain itu tugas orang tua juga untuk mengenalkan anak kepada berbagai macam kesempatan belajar agar anak mengerti apa yang diinginkan.

Jadi harapanku penjurusan sekolah di Indonesia lebih mengedepankan “kamu suka belajar apa?” dibandingkan “lulus mau kerja apa?”

Berkaca dari pengalamanku, banyak banget loh se angkatanku rela masuk jurusan yang tidak sesuai minatnya hanya demi mengejar gengsi di kampus besar. Hasilnya yang nggak sedikit diantara mereka yang kuliahnya terbengkalai. Hal ini nyambung dengan poin dari Mendikbud ketika bilang ingin menghubungkan pendidikan dengan Industri. Jadi sekolah bukan hanya sekedar gengsi agar bisa punya almamater sekolah favorit, tapi juga menjadi SDM unggul dengan skill yang mumpuni.

Beberapa poin terakhir, aku setuju sama Nyonya Malas agar Mendikbud tetap fokus pada Visi Misinya dan ada cukup waktu untuk melakukan semua ini. Baca disini.

5 tahun emang cuma sebentar. Tapi jika dimanfaatkan sebaik mungkin, kurun waktu 5 tahun bisa menjadi pendobrak perubahan agar menjadi Indonesia yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *