Kartiniku Kartinimu

Selamat Hari Kartini!

Ibu R.A Kartini yang dulu memperjuangkan hak-hak kaum wanita pasti akan sangat bangga jika melihat kondisi perempuan sekarang.

Banyak perempuan-perempuan yang saat ini mendapat pendidikan tinggi tanpa harus takut terintimidasi. Tanpa harus membaca buku di gudang belakang secara sembunyi-sembunyi. Bahkan sekarang melihat seorang perempuan menuntut ilmu sendirian di negeri orang adalah hal yang sangat biasa.

Tapi kenapa masih banyak lingkungan yang berpikir ketika seorang perempuan menuntut ilmu setinggi mungkin akan membuatnya terlambat menikah? Atau akan membuatnya ditakuti para pria sehingga menjadi perawan tua? Atau mungkin untuk yang berkeluarga akan diteriaki tak peduli dengan anak.

Di sisi lain, banyak juga perempuan yang kurang beruntung. Hanya mendapatkan pendidikan maksimal di bangku SMP. Sisanya dia hanya bisa membaca seadanya dari koran bekas yang berserakan di jalan. Lalu pada usia 17 tahun ia pun menikah.

Tapi kenapa lingkungan masih saja berpikir kalau perempuan yang seperti ini salah? Bukankah ia tidak bersekolah tinggi? Bukankah ia menikah di usia muda? Kenapa yang bersekolah tinggi justru malah berpikir kalau perempuan seperti ini adalah rendahan?

Disadari atau tidak, fenomena ini tidak hanya terjadi pada perempuan yang menempuh pendidikan. Tetapi hampir di setiap aspek kehidupan yang ada. Lucunya, mereka tidak sekalipun mencoba berdiri di sisi lain agar dapat merasakan yang sebenarnya.

Yang bersekolah tinggi melihat yang tidak sekolah adalah rendahan kemudian menghina. Tanpa tahu bahwa yang tidak bersekolah tidak memiliki dana dan menikah di usia 17 tahun adalah satu-satunya cara meringankan beban keluarga.

Yang tidak bersekolah tinggi melihat mereka yang bersekolah hingga ke luar negeri terlalu terobsesi dengan ilmu. Lalu disumpahi menjadi perawan tua. Tanpa dia ingat bahwa jodoh ada di tangan Tuhan bukandi sumpah serapahnya.

Yang paling sering saya alami sendiri adalah hobi saya berdandan. Nampaknya berhijab dan berdandan merupakan hal yang kontras bagi sebagian orang. Pernah suatu ketika saya dibilang “tabarruj atau berlebih-lebihan.”

Disini saya sebal, karena berlebih-lebihan versinya berbeda dengan versi saya.

Perempuan yang berbicara seperti itu kepada saya, memang perempuan yang polos. Nyaris tanpa polesan alis atau lipstik. Saya memaklumi hal ini karena tentu saja buat dia dandanan saya yang menggunakan foundation, alis, dan lipstik ini berlebihan.

Tapi jika standar dandan yang tidak berlebihan disamakan seperti versi perempuan polos tadi, saya sangat menolak! Kita memiliki versi berlebih-lebihan tersendiri. Terutama untuk makeup.

Misalkan saja seorang guru yang saat ke sekolah berdandan tebal seperti penyanyi yang sedang manggung. Maka bisa dibilang dia berlebih-lebihan. Bahkan seorang penyanyi yang berdandan seperti mau ke pasar juga bisa dibilang berlebihan. Berlebihan sederhananya. 🙂

Lucunya, tidak banyak perempuan menyadari perbedaan kebutuhan ini. Baik dalam pendidikan hingga berdandan.

Kartiniku berbeda dengan Kartinimu.

Kartiniku adalah perempuan yang bersekolah hingga sarjana, menulis di rumah, berdandan 1 jam sebelum keluar rumah, dan yang memilih untuk menikah di usia 23 tahun.

Mungkin Kartinimu adalah perempuan yang bersekolah hingga S3 di luar negeri, bekerja setiap hari, berdandan sederhana setiap hari dan yang memilih untuk menikah di usia 28 tahun.

Perbedaan Kartiniku dan Kartinimu tidak akan mengurangi derajat kita sebagai wanita.

Satu-satunya hal yang mengurangi derajat kita sebagai wanita adalah ketika kita melihat Kartini yang lain tidak lebih baik dari Kartini kita sendiri.

Di hari Kartini ini, semoga kita bisa mengembangkan potensi diri sendiri, tanpa harus menjatuhkan Kartini yang lain.

Selamat Hari Kartini! Habis gelap terbitlah terang. Maka janganlah sekali-kali kita sebagai perempuan memberikan kegelapan pada perempuan yang lain. 🙂

 

One thought on “Kartiniku Kartinimu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *