Kuliah atau Nikah: Dilema Milennial Di Tengah Nyinyiran Orang

“Masih muda, udah nikah aja nih? Sayang banget yaaa. Di luar sana dunia ini masih luas lhoo. Banyak sekali kesempatan. Nyesel loh ntar.”

“Sekolah melulu. Nikahnya kapan? Sekolah tinggi-tinggi ntar jadi perawan tua loh. Nggak laku. Laki-laki nggak mau sama cewek yang sekolahnya tinggi.”

Ada yang pernah dapat omongan kaya gini?

Aku pernah. ๐Ÿ™‚

Sebagai catatan, saat ini aku lulusan S1. Dilamar saat proses skripsi. Menikah setelah lulus.

Normal kan jalan hidupku? Alhamdulillah. Ternya tidak semua orang merasa jalan hidupku ini cukup normal untuk dinalar.

Lucunya, pertanyaan di atas justru datangnya dari orang yang sama sekali nggak paham seluk beluk hidupku. Gimana nggak ketawa sehari semalam coba. :))

Untuk millennial sepertiku, menikah di usia 23 tahun rasanya masih terlalu dini. Masih banyak yang bisa dikerjakan. Buka online shop, buka cafe sendiri, daftar CPNS, kerja di Perusahaan ternama, dll.

Dulu, aku juga salah satu penganut ideologi pantang menikah muda. Arti Muda disini adalah di bawah 25 tahun. Jadi waktu SMA aku punya cita-cita nikah usia 26 atau 28 tahun. Dan aku memprediksi pada usia tersebut aku harus sudah bisa nyari duit sendiri.

Pemikiran seperti itu bisa muncul karena memang lingkup pertemananku memiliki pemikiran yang sama juga. Tidak ada kata menikah muda. Pokoknya harus kerja, punya uang banyak, belanja belanja, Sekolah tinggi, nikah urusan ntar. Kayanya aku dan sahabat-sahabatku kebanyakan nonton Confession of a Shopaholic. :))

Manusia berencana, Tuhan yang memutuskan. Aku nikah umur 23 tahun.

Meskipun aku menikah ketika aku sudah memiliki gelar S1, masih ada aja yang nyinyir. Sepertinya, millennial nggak akan pernah habis nyinyiran. Nikah salah, sekolah jadi perawan tua.

Untuk para millenial yang lagi bingung antara nikah atau kuliah (entah itu S1, S2, S3), mungkin bisa mempertimbangkan beberapa pro dan kontra yang aku tulis di bawah ini. Karena setiap keputusan pasti ada plus dan minus.

Nikah Duluan

Tahu nggak berapa banyak uang yang diperlukan untuk menikah di Indonesia?

Cuma IDR 500.000 sih (tergantung lokasi). Bahkan kalau di KUA bisa gratis. :))

Tapi tahu nggak berapa banyak uang yang diperlukan untuk pesta pernikahan di Indonesia?

Mulai dari 50 juta hingga 1 Milliar untuk kalangan atas. Harga ini disimpulkan dari berbagai sumber dan ditarik kesimpulan yang paling banyak.

Untuk kalian yang ingin nikah duluan, sudah ada tabungan berapa? Kalau kalian nggak masalah menikah di KUA dan resepsi kecil-kecilan, hal ini nggak akan jadi masalah buat kalian. Tapi ada hal lain yang juga perlu dipertimbangkan. Seperti:

  • Sudah siap mental?
    well, kalau ngomongin siap memang nggak akan pernah siap. Kesiapan mental disini bukan sekedar siap mental buat menikah dan berumah tangga. Tapi lebih ke kesiapan mental dalam diri sendiri.
    Apakah kamu sudah bisa meredam emosi diri sendiri saat sedang marah?
    Apakah kamu sudah bisa berhenti melirik-lirik cewek/cowok lain saat menggandeng pasangan?
    Apakah kamu sudah siap memberikan hati dan jiwa untuk orang yang dinikahi? Tidak hanya untuk pasangan, tapi untuk keluarganya juga.Nikah nggak sekedar sah loh. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan. Dan menikah bisa berarti momen dimana kamu secara eksklusif memikirkan tentang orang lain, bukan tentang dirimu sendiri. Beberapa orang, nggak siap melakukan hal ini sehingga rumah tangga jadi dingin.
  • Siap untuk berbagi?
    Nggak cuma berbagi tempat tidur. Tapi juga berbagi cerita keseharianmu, berbagi makanan, berbagi tawa, bahkan sekedar berbagi meme lucu yang kamu lihat di internet.Kalau nikah, pastikan pernikahanmu rasanya seperti hidup bareng sahabatmu.
    Well, aku emang masih newbie banget dalam menikah, tapi sejauh ini rasanya setelah nikah dan sebelum nikah sama aja. Masih berasa kaya temen. Bedanya cuma bobo bareng aja. ๐Ÿ˜€
  • Siap untuk memberikanย hak orang lain?
    Gampang buat diri sendiri meminta hak, Tapi bisa nggak kita tetap memberikan hak orang lain?
    Gampangnya gini, sampai detik ini aku masih suka koleksi makeup, masih suka dandan, masih suka nge vlog. Semua itu aku lakukan buat ‘escape’ karena emang aku di rumah aja tuh bosen. Aku gampang bosenan guys. Jadi Mas Tiyo membiarkanku melakukan hal yang aku suka seperti belanja makeup, baju, dll agar aku tidak bosan. Mas Tiyo memberikan hak ku untuk mendapatkan hiburan dari belanja. Dengan catatan aku juga nggak berlebihan seperti belanja terussss lupa beberes rumah.
    Vice versa, aku juga melakukan hal yang sama ke Mas Tiyo.
    Dia workaholic. Kerjaannya banyaaaak banget. Mungkin karena sudah biasa kaya gitu, jadi hiburan dia tuh ya kerja itu. wakakak. Ya aku biarin dia kerja. Di kantor, di rumah, asal dia nggak lupa sama tanggung jawab sebagai suami. Beberapa pasangan, nggak mau memberikan hak pasangan mereka. Misalnya, nggak boleh sekolah, nggak boleh belanja, nggak boleh ini itu. Trust me, aku tahu orang yang bener nggak dibolehin ini itu sama suaminya. Inilah yang bikin pernikahan terdengar ngeri dan mainstream.
    Makanya, memberikan hak buat diri sendiri itu gampang. Tapi bisa nggak memberikan hak orang lain setelah nikah?

Tapi… nikah duluan juga ada positifnya. Beberapa di antaranya adalah:

  • Support system.
    Namanya dikasih semangat, pasti beda deh kalo dikasih semangat sama pasangan. Lebih triggered. Apalagi pas suntuk ditengah sibuk kuliah. Ada aja yang ngasih semangat sambil elus-elus rambut. #eh
  • Free uber.
    Hehehe… ini lame banget sih tapi kalo punya pasangan bisa ada temen kemana-mana kan yeee… ๐Ÿ˜€
  • Ada tempat buat cerita kalau lagi galau.
    Beda dengan cerita sama sahabat, cerita sama suami itu lebih gamblang. Meskipun kadang dia bingung mau nanggepin apa, tapi namanya cewek ya, asal ada yang dengerin gitu pasti tenang.

Dan masih banyak hal positif yang didapat setelah menikah. Intinya apa yang biasa kalian lakuin sendiri, bisa dilakuin bareng dan lebih ringan pas udah nikah. Tapi tetap perlu diingat kesiapan yang aku tulis di atas. ๐Ÿ™‚

Sekolah Duluan

Biaya pendidikan di Indonesia itu nggak murah. Bahkan kalau kalian mau belajar dari Youtube sekalipun tetep aja butuh uang buat beli kuota. ๐Ÿ™

Selain itu, pendidikan juga nggak bisa ditempuh sehari semalam. Butuh beberapa tahun untuk menyelesaikan.

Kalau pengalamanku pribadi sih, meskipun dilamar saat sekolah belum kelar, Ayahku mengharuskan aku lulus terlebih dahulu kemudian menikah. Dan Mas Tiyo juga nggak masalah menunggu. Ketika sesama pasangan fleksibel kaya gini, Insya Allah lancar lancar aja kok.

Perhitungan usia juga penting loh, guys. Misalnya, kalian rencana menikah usia berapa. Lalu pendidikan yang kalian tempuh berapa lama. Hal-hal receh kaya gini penting dipikirkan juga. Hal receh lain yang perlu dipikirkan adalah:

  • Yakin bisa lulus on time?
    Oke ini pertanyaan yang wajib banget ditanyain ke diri masing-masing. Kalau kalian yakin, silahkan lanjut. Tapi kalau enggak, lebih baik pikirkan matang-matang. Soalnya nggak semua orang bisa kuliah dan lulus on time. Kalau meleset, bisa gawat kan.
  • Perhitungan Usia.
    Ketika kalian mulai kuliah di usia yang sekiranya sudah ‘terlalu matang’ untuk nikah, ada baiknya kalian memikirkan hal ini lebih matang. Karena menikah di usia yang ‘terlalu matang’ bisa cukup merugikan bagi kesehatan, dan juga keuangan di masa depan.
  • Tabungan berkurang
    Mungkin orang lain kurang setuju dengan alasan ini. Tapi uang tabungan untuk menikah jadi berkurang kaaan. wkwkwk.

Hal positif jika kalian kuliah dulu juga banyak kok. Misalnya, memiliki pendidikan tinggi. Kalau pendidikan tinggi nyari kerja dimudahkan. Jadi nabungnya lebih cepet deh. Selain itu untuk yang perempuan, berpendidikan tinggi juga penting karena kepintaran anak meniru sang ibu. ๐Ÿ™‚

Sebagai pertimbangan lagi, kalian bisa membaca artikel tentang Sekolah atau Nikah dari Nyonya Malas berikut.

Yang ditakutkan bukan ketika kita sekolah terlalu tinggi atau menikah terlalu dini. Tetapi ketika kita menemukan pasangan yang membatasi semua kemampuan kita.

Pada dasarnya, kita boleh kok sekolah tinggi. Asalkan jangan lupa suatu saat kita akan menikah dan berkeluarga. Dan ketika kita sudah memutuskan untuk berkomitmen menikah, keluarga adalah nomor satu.

Begitu juga ketika kita memilih untuk berkeluarga. Jangan sekali-kali melupakan potensi diri. Kalau masih bisa sekolah, ya sekolah aja. Selama masih bisa bernafas, pelajaran nggak akan pernah habis. ๐Ÿ™‚

One thought on “Kuliah atau Nikah: Dilema Milennial Di Tengah Nyinyiran Orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *