Masa Baby Blues dan Caraku Melewatinya

Baby Blues, monster semua Ibu yang baru saja melahirkan. Data penelitian di berbagai negara menunjukkan 50-75% perempuan yang baru melahirkan mengalami Baby Blues. Angka ini tinggi loh. Coba bandingkan dengan kasus malaria di tahun 2017 yang mencapai angka maksimal hampir 50%.

Malaria, yang sangat kita takuti saat menyerang manusia, dengan angka hampir 50% di seluruh Indonesia selalu mendapat perhatian penuh. Bahkan orang di sekitar kita sangat fokus jika ada seseorang yang terkena malaria. Lalu kenapa Baby Blues yang dialami oleh 50-75% perempuan baru melahirkan, yang gejalanya juga jelas terlihat, tidak mendapatkan perhatian lebih? Malah tidak jarang para Ibu menyangkal kalau mereka mengalami Baby Blues atau orang-orang sekitar yang malah menjatuhkan si Ibu. Sampai akhirnya Baby Blues semakin parah dan jadilah Post Partum Depression yang berakibat Ibu berpotensi menyakiti diri sendiri bahkan si bayi.

Disini aku mau cerita pengalamanku ketika baby blues dan caraku melewatinya. Meskipun baby blues yang aku alami cukup ringan jika dibandingkan dengan ibu-ibu lain yang aku dengar sendiri ceritanya, tapi rasanya cukup traumatis loh. Jadi jangan disepelekan yah nanti aku baper hahaha.

====

Sebelumya aku mau disclaimer dulu deh. Kalau kalian setelah melahirkan nggak mengalami baby blues, Ya Alhamdulillah deh selamat. Tapi nggak usah menggurui bilang kalau yang kena baby blues itu lebay. Karena rasanya SANGAT TRAUMATIS. Sumpah deh!

Dan jangan sekalipun menganggap orang yang kena baby blues tuh lemah mental dan fisik. Aku cukup rajin beribadah dan stress tollerantku juga cukup tinggi, TAPI aku tetep kena baby blues. Aku juga bukan orang yang gampang stress, bahkan aku orang yang santai banget di hidup TAPI ya tetep kena baby blues. Jadi, sebelum menggurui soal baby blues hanya karena kalian NGGAK MENGALAMI BABY BLUES, mending duduk aja yah daripada kena semburannya Ibu G yang kesel sama sotoy nya kalian bye. :))

====

Yang ngikutin cerita blog ini dari awal melahirkan, setelah persalinan, sampai disini, pasti tahu kalau aku hamil sampai persalinan tuh enak-enak aja rasanya. Nggak ada pengalaman traumatis disana kecuali pas Gladys harus NICU. Tapi begitu kena baby blues, waduh rasanya mau punya anak lagi tuh mikir beribu kali. Sampe pernah telat mens sekali tuh langsung stress karena aku takut hamil lagi dan harus mengulang fase baby blues. Mas Tiyo sampe aku omel-omelin padahal kan yaa dia ga sepenuhnya salah. -_-”

Baby Blues yang aku rasakan bermula dari 2 hari setelah pulang ke rumah. Hari pertama bayi masih tidur dengan anteng dan nyenyak. Hari kedua mulai deh malam-malam nangis jadi aku kebangun-bangun terus. Baru bobo sebentar nangis lagi. Sampe gendong sambil ngantuk-ngantuk.

It starts with sleep deprivation. Iya semudah itu triggernya. Padahal kalo diinget dulu jaman masih single betah banget kan nggak tidur semalaman. Tapi ini kondisinya beda. Abis melahirkan tuh capek, hormon amburadul, masih nifas, bekas jahitan yang belum sembuh, dan tiba-tiba terisolir dari dunia luar karena harus 24 jam bersama bayi. Shock jelasnya. Tapi sleep deprivation ini aku masih bisa agak handle soalnya kalau siang tiap Gladys tidur, aku juga ikutan tidur.

Kesalahanku yang fatal adalah aku terlalu mengikuti artikel yang sering aku baca. Yaitu “Bayi minum susu 2-3 jam sekali”. Nah aku selalu berpatokan pada aturan ini sejak pulang kerumah. Ternyata aturan ini nggak berlaku buat Gladys.

Dia nggak minum 2-3 jam sekali. Tiap satu jam dia nangis. Tiap satu jam dia kebangun dan kemudian nangis. Aku, karena masih berpatokan pada aturan 2-3 jam tadi, bingung harus ngapain. Aku gendong-gendong, dia tenang abis gitu nangis lagi. Terus deh berulang semalaman. Jadilah sleep deprivation yang jadi awal pemacu baby blues ku. 🙁

Saranku buat para Ibu yang punya masalah sama, kalau bayinya nangis (terutama newborn) langsung susuin aja. Aku terlalu terpaku sama teori “2-3 jam” sampai aku lupa esensi dari menyusui itu sendiri.

Bayi menyusu Ibunya bukan hanya karena lapar, dengan menyusui dia dapat kenyamanan, menyusu membuat ia merasa aman, menyusu membuat ia merasa tenang, menyusu membuat ia merasa dekat dengan Ibu, dll. Inilah esensi menyusui yang sebenarnya. Jadi bukan hanya lapar aja, tapi banyak kebutuhan bayi yang terpenuhi karena menyusui. Untungnya disadarin sama DSAnya Gladys. Beliau menjelaskan kalau bayi itu menyusu terus karena butuh dekapan Ibu. Jadi tiap Gladys nyusu aku nggak pernah bingung atau takut apakah dia minum kebanyakan atau enggak. Soalnya ya Gladys emang butuh dekat sama aku. Aw:’)

Malam ketiga, aku masih berjuang dengan drama nangis-nangis ini. Sampai pas aku bangun dari tempat tidur dan mau gendong Gladys karena dia nangis, aku salah posisi duduk dan “nyuuut” jahitankuuuu rasanyaaaa huuuhuuu… T_T

Sebenernya nggak sakit-sakit amat sih. Cuma yaa “nyuut” nya itu bikin dunia serasa kebelah beb. :((

Kesakitan kaya gitu, aku masih harus berdiri buat gendong Gladys. Mewek akutuuuu. Apalagi lihat Mas Tiyo yang tidur pules. Haduhhh makin nelangsa hati ini. Tapi ya emang waktu itu dia lagi sakit. Jadi aku juga nggak berharap banyak.

Karena nangis terus, Mas Tiyo pun ikutan bangun dan dia ambil alih buat gendong. Tapi tetep dia nggak mau berhenti nangis. Aku yang mau istirahat bentar jadi nggak bisa karena Gladys nangis terus. Langsung deh aku mikirnya Mas Tiyo nih nggak bisa asuh anak. Huuhuhu maaf ya Mas. 🙁

Trust Issues, pemacu baby blues ku selanjutnya. Aku jadi nggak gampang percaya sama orang, bahkan sama suami sendiri. Tiap Gladys tidur terus dia kebangun, aku pasti langsung nyalahin Mas Tiyo karena aku mikirnya dia nggak bisa bikin Gladys ‘tetep tidur’ dengan cara di puk-puk. Apalagi telinga Gladys peka banget. Ada suara dikit dia langsung kaget dan HARUS BANGET di puk-puk biar dia balik tidur. Wajar kan namanya bayi masih punya Moro Reflect, jadi harus banget ditenangin. Tapi tiap sama Mas Tiyo dia selalu kebangun dan nangis. Jadilah aku mikirnya Mas Tiyo nggak puk-puk Gladys dan bikin dia kebangun.

Aku jadi nggak percaya sama suami sendiri, nyalahin suami sendiri, dan suka kesel sama suami sendiri. Ini efeknya jangka panjang banget. Ada kali sampai Gladys 4/5 bulan baru aku bisa percayain Gladys sepenuhnya sama Mas Tiyo. :/

Bahkan ada satu momen dimana aku mau banget ke kamar mandi pas Gladys lagi tidur di gendonganku. Aku bingung kalau aku taruh nanti dia nangis dan kebangun, kalau aku gendongin ke Mas Tiyo nanti dia nggak bisa bikin Gladys tenang dan tidur. Nanti dia nangis dong. Gimana dong.

Abu-abu banget pokoknya waktu itu. Karena aku nggak percaya sama suami sendiri. Akhirnya aku tahan banget ke kamar mandi sampe perutku sakit sambil nangis. Iya nangis, nggak ngomong apa-apa. dipendam sendiri.

Padahal nggak apa-apa kok gendong bayi sambil ke kamar mandi. Apalagi kalau kamar mandinya adalah kamar mandi kering. IT’S FINE!

Tapi waktu itu aku masih blank banget. Mungkin kebawa masa single dimana aku makan, ke kamar mandi, ngapa-ngapain sendiri. Ditambah sleep deprivation yang aku alami. Jadi waktu itu aku sama sekali nggak kepikiran kalau ke kamar mandi BOLEH SAMBIL GENDONG BAYI.

Saranku buat para Ibu baru untuk urusan per-kamar mandi-an ini, siap-siap untuk sistem rekresi yang berantakan. Setelah melahirkan rasanya nahan BAK tuh susahhh banget. -_-

Jadi aku nggak bisa saranin banyak kecuali rajin BAK meskipun kalian lagi nggak pengen BAK. Karena kalau keburu kerasa pengen BAK, udah susah ditahan. Nanti sakit huuhuu..

Tapi kesalahanku yang paling fatal adalah, AKU NGGAK NGOMONG APA YANG AKU RASAIN.

Lack of communication, semakin memperparah Baby blues ku. Padahal biasanya aku selalu ngomong loh. Komunikasi adalah hal yang penting buatku. Tapi waktu Baby Blues rasanya BLANK BANGET.

Contohnya ya sederhana seperti di atas. Mau ke kamar mandi, nggak ngomong karena bingung, dipendam sendiri, nangis sendiri. Laper, tapi bayi masih menyusu, nggak bisa kemana-mana, nggak minta tolong, bingung, nangis sendiri.

Dan ini bukan karena aku nggak mau minta tolong loh ya. Tapi ya simply karena aku BLANK. Abu-abu semuanya, bingung mau ngapain.

Sekarang kan udah lewat mas Baby Blues jadinya aku gampang menjabarkan semua masalah pada waktu baby bluesku karena aku udah bisa berpikir jernih. Lah dulu? BLANK sumpah. Kaya bingung sendiri nggak jelas gitu. Padahal akutuh sebingung apapun, aku selalu bisa sortir pikiranku. Sortir mana dulu yang harus dilakuin, apa dulu yang harus dilakuin. Tapi pas baby blues, sama sekali nggak kepikiran beb. Gelap. -_-

Saranku untuk Ibu yang baru punya anak, ngomong aja apa yang kamu rasain. Ini agak berat emang. Soalnya otak perempuan tuh didesain untuk multitasking dan mikir banyak banget. Jadi seringnya kita bingung mau ngomong apa karena banyak banget yang ada di kepala kita. BUT IT’S OKAY, Just speak them out. Meskipun yang diomongin melenceng dari yang kalian rasain. Ngomong aja.

Setelah yang kalian pikirkan udah habis diutarakan, ambil nafas dalam. baru ngomong yang kalian rasakan. Seringnya kalimat yang keluar adalah “Aku capek.” Been there, done that. 🙂

Dan untuk para ayah yang baru punya anak, DENGERIN AJA ISTRI MAU NGOMONG APA. Kalau males dengerin ya yaudah diem aja. Otak laki-laki memang didesain untuk fokus. Nggak bisa multitasking kaya otak perempuan. Makanya kalau ada perempuan cerita panjang lebar sering banget di skip sama otak mereka. Apalagi kalau Istri kalian baru jadi Ibu dan mengalami baby blues. Aku berani jamin, kalau kalian tanyain “kamu kenapa?” si Ibu pasti akan jawab “nggak apa-apa” atau sekedar geleng kepala. Karena hal ini kejadian sama aku. :))

Terdengar aneh soalnya Ibu ngomel panjang lebar, dan Ayah hanya mendengarkan. Tapi justru ini yang pelan-pelan bisa menyembuhkan baby blues ku. Nanti aku akan bahas juga kok.

Semua keadaan yang menjadi penyebab Baby Blues di atas berdampak kepada psikologiku. Aku jadi gampang nangis nggak jelas, pas ditanya jawabnya enggak apa-apa. Terus aku jadi gampang panik, terutama panik saat mengurus anak. Panik kalau tiba-tiba nangis, panik kalau dia bangun, panik kalau dia mau tidur, sampai bingung sendiri dan kaya orang linglung.

Puncaknya sih aku jadi takut dengar suara tangisan bayi. Tiap Gladys nangis rasanya aku pengen pergi aja nggak mau deket-deket. Sempet terlintas pengen kasihin ke orang lain aja gitu. Astaghfirullah! Terus aku juga jadi selalu nyalahin orang lain. Ada suara kembang api, marah-marah, Mas Tiyo terima telfon, aku omelin karena suaranya terlalu keras, ada orang buka pintu keras dikit, langsung aku pelototin. Pokoknya nggak sehat banget kondisinya waktu itu.

I didn’t like myself on that moment. It wasn’t healthy for me. Padahal aku udah mengedukasi diri sendiri tentang masa trimester ke 4 ini TAPI YA TETEP AJA BABY BLUES. Gelap pokoknya! 🙁

Ini berlangsung sekitar 2 bulanan. Sampai aku pelan-pelan sembuh dan berusaha menyembuhkan diri.

Waktu itu, Aku juga merasa nggak perlu ke psikolog karena aku tau kalau yang aku alami ini baby blues. Aku sudah merasa sangat tidak sehat dan Karena sebelumnya aku udah sering banget sharing sama temen-temen blogger yang juga mengalami baby blues, aku langsung sadar kalau aku perlu menyembuhkan diriku. Dimulai dari diriku sendiri penyembuhannya. Because I can’t change the situation. Aku nggak bisa nyuruh orang di rumah untuk selalu diam biar Gladys nggak kebangun, aku nggak bisa nyuruh tukang sayur yang lewat buat nggak berisik, aku nggak bisa nyalahin orang lain. It starts with me, so I need to heal me.

Sebenarnya ada beberapa hal yang membantuku sembuh dari baby blues. Beberapa diantaranya:

1. Bantuan dari Ibu

Sejak Gladys lahir, aku dan suami selalu urus sendiri. Aku punya adik yang baru masuk SD, jadi Ibuku urusin adikku. Aku juga memang sudah bertekad untuk urus bayi sendiri kok. Nggak mau ngerepotin orang tua ataupun mertua. Sounds heroic ya, padahal ini yang bikin baby blues lol.

Tapi karena Gladys sering nangis dan aku jadi kurang tidur, Ibuku akhirnya bantu nidurin. Disini aku diajarin cara nidurin Gladys dengan posisi miring. Jadi dia miring sambil menggulung kaya di dalam perut gitu. Selain itu kita harus mepet sama bayi agar kalau bayinya gerak dikit, kita berasa dan langsung puk-puk biar balik tidur lagi. Soalnya kata Ibuku, bayi tuh kalau tidur lebih suka sambil dipeluk. Jadi pas Gladys tidur, aku selalu taruh tanganku di pahanya, biar dia merasa didekap.

Ini amat sangat membantu loh. Sejak aku tidurkan miring dan trik taruh tangan di paha dia bobonya jadi lebih tenang. Kalau usrek usrek ya kata Ibuku langsung tawarin ASI aja. Jadi sejak pulang ke rumah, Gladys minum ASI sambil tidur. Sebelumnya aku nggak tau trik tidur kaya gini, jadi ya aku tidurin biasa gitu terus jaraknya denganku agak jauhan soalnya takut ketimpa badanku (abisnya di artikel yang aku baca bilangnya kaya gitu sih. Ternyata praktek tak seindah teori wk). Makanya sering nangis tengah malam karena Gladys nggak merasa didekap. Kasihan anak IbuG. 🙁

Bersyukur banget deh pokoknya waktu itu. Aku jadi tahu cara menyusui bayi sambil tidur soalnya sebelumnya nggak kepikiran sama sekali. Padahal udah baca artikel sana sini. -_-

Dih Ibu G nih teori pinter tapi praktek nya zonk. LOL!

2. Tidur waktu Bayi Tidur

Ini adalah hal yang paling ditekankan oleh Ibuku. Aku HARUS tidur waktu Gladys tidur. Ga usah mikirin rumah berantakan, masakan, cucian, dll. Tapi ya emang terbantu banget soalnya ada Yuk di rumah yang tugasnya beres-beres. Makanan juga Ibuku masakin sayur, daging, ikan, semua-muanya. Pokoknya apapun dimasakin sama Ibuku saking pengennya aku bisa menyusui Gladys. Soalnya dulu Ibuku nggak bisa mengASIhi ku secara full karena nggak keluar ASInya. :’)

Jadi kalo aku nggak tidur pas Gladys tidur gitu aku malah diomelin. Hahahaha…

Padahal kan kesempatan buat scrolling instagram dan pinterest yak. wkwk.

3. Ngomel

Iya. Ngomel sangat membantu proses sembuhnya Baby blues ku. 😛

Seperti yang aku ceritain di atas, sebelumnya aku nggak pernah cerita tentang apa yang aku rasain. Akhirnya ya aku nangis sendiri.

Terus setelah aku mulai dapat cukup tidur dan makanan bergizi. Aku udah mulai bisa menyortir pikiranku. Mulailah aku ngomong ke Mas Tiyo apa yang aku mau.

Tapi jangan harap aku ngomongnya langsung to the point “Aku mau A” gitu ke Mas Tiyo, ngalor ngidul dulu dong ngomongnya. Karena otak perempuan tuh multitasking, jadi aku ngomongnya gini, “Aku mau makan A, tapi aku juga mau makan B, tapi aku udah lama nggak makan C, Trus aku juga pengen pijet, aku juga pengen ke salon, udah lama nggak menipedi, tapi aku juga pengen ke D, aku pengen ke E, aku juga pengen ke F, pengen beli baju, tapi ukuranku apa aku juga nggak tau, sepatu juga ukurannya berubah, panjang, lebar, tinggi, endesbre endesbre…”

Mas Tiyo ngapain? Diem. :))

Entah diem dengerin, atau diem nggak ngerti harus respon apa. wqwq.

Setelah keluarin yang ada di otak, barulah aku tarik nafas dan bilang “Aku mau makan hokben, tapi makannya harus di TP” Wkwkwkwk, essay 5 paragraf akhirnya tersortir jadi 1 kalimat pemirsahhhh… XD

Obrolan kaya gini berlanjut terus menerus pada masa baby blues ku. Mas Tiyo juga selalu diem kalo aku ngomong panjang lebar tinggi gitu. Dibiarin aja aku ngobrol panjang kaya gitu. Paling juga pas terakhir aku ngomongnya “makan bakso yuk” LOLOLOL.

Mungkin kalian bisa niru caraku ini untuk mengkomunikasikan apa yang kalian rasain kalau kalian kena baby blues. Dan teruntuk para laki-laki yang Istrinya ngomong ngalor ngidul, udah dengerin aja. Kalo nggak mau dengerin yaudah diem aja. Pura-pura aja dengerin. Most women only want to be listened.

Sekarang Gladys udah 7 bulan, aku udah nggak komunikasi dengan cara ngomong ngalor ngidul lagi. Ya soalnya kan udah bisa mikir jernih dan sortir apa yang dimau. Tapi kadang aku masih ngomong ngalor ngidul juga kalo lagi suntuk banget. Eh sama Mas Tiyo ditimpalin dengan dia juga ikutan ngomong ngalor ngidul pengen ini itu. Wakakak… makin pusing lah mending nggak usah ngomong akunya. XD

Satu hal yang bikin aku bersyukur banget adalah, dukungan dari orang terdekat. Ibuku yang rajin banget masakin ini itu biar ASI ku lancar dan suamiku yang rajin nyuapin aku kalau pas aku lagi laper banget tapi Gladys masih nyusu. Pokoknya aku amat sangat bersyukur punya lingkungan yang beneran membantu. Nggak cuma ngomong doang aja gitu wkwk.

Karena meskipun aku nggak tau bantuan apa yang aku perlukan, mereka selalu menyediakan.

dan meskipun aku nggak tau nangis gara-gara apa, mereka juga nggak banyak komentar.

Disini aku bersyukur banget pokoknya.

Baby blues adalah masa yang kelam. Aku bersyukur ini terjadi hanya sekitar 2 bulan. Meskipun sampai sekarang rasa trauma selalu ada, tapi paling tidak aku sangat bersyukur baby blues yang aku alami tidak berubah menjadi Post Partum Depression (PPD) yang justru menjadi semakin parah.

Makannya aku nggak akan pernah berhenti mengingatkan para calon Ibu dan Ayah tentang bahayanya baby blues. Karena aku nggak pengen ada orang lain yang baby blues nya nggak sembuh dan jadi PPD. Atau kemungkinan paling buruk adalah, Baby blues tidak sembuh dan Ibu menjadi depresi sampai anak beranjak dewasa. Ada loh kasus kaya gini. Efeknya malah lebih parah, Ibu jadi suka marah nggak jelas ke anak, ada juga yang main tangan, dll.

Untuk para Ibu, always remember that you’ve done great, asking a help won’t make you any less than a mom. Pilih support system yang selalu positif. Suami, Ibu, kakak, adik, sahabat, siapapun yang mau membantu tanpa harus komentar panjang lebar. Kalau beneran tidak mampu, sewa nanny juga boleh kok. Menyewa nanny agar Ibu bisa istirahat sejenak tidak membuatmu kurang keibuan kok. IT’S FINE. Do whatever it takes to heal you.

I’m fine now. My baby is fine. So are you, mom! 🙂

One thought on “Masa Baby Blues dan Caraku Melewatinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *