Privilege; Dari Kacamata yang Berbeda

Minggu lalu aku menonton sebuah series di netflix dengan judul Inside Bill’s Brain: Decoding Bill Gates. Series ini menceritakan perjalanan Bill Gates sejak kecil, membangun Microsoft, membangun Bill and Melinda Gates Foundation, membangun Terra Power, hingga impiannya di masa depan.

Di dalam series, aku kagum banget loh melihat sosok Bill Gates yang pintar banget dan juga bermanfaat bagi orang lain. Kalau ada yang bilang “nggak apa jadi orang nggak pinter amat, yang penting berguna bagi masyarakat”, kalimat ini tuh sama sekali nggak ngaruh buat Bill Gates. Karena ya dia pintar plus berguna banget buat masyarakat. Justru kepintarannya yang membawa dia jadi sosok yang berguna bagi masyarakat.

Kalau kalian belum nonton, coba tonton deh. Kalian pasti akan kagum juga.

Di dalam series, Bill Gates merasa kalau dia itu orang yang privilege alias mendapat kesempatan lebih sehingga ia beruntung dalam karirnya. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan sehingga bisa sekolah tinggi dan dapat akses pendidikan, punya lingkar keluarga yang merupakan orang kelas atas karena ayahnya adalah pengacara yang sukses dan ibunya anggota charity atau penggalangan dana, serta hal yang paling dirasa previlege adalah ketika dia berhasil menjual software pertamanya ke IBM karena Ibunya membantu memperkenalkan Bill ke lingkar sosial Ibunya.

Mungkin kalau diriku yang 5 tahun lalu nonton series ini, aku pasti akan mikir dia privilege buat dapetin semua kesuksesan itu. Tapi, cara berpikirku sekarang dengan 5 tahun lalu sudah berbeda.

Aku melihat Bill Gates dan semua kesuksesannya bukan sekedar privilege. Ada momentum yang berperan besar dan kerja keras di dalamnya. Momentum dimana computing software sedang dibutuhkan, revolusi teknologi sedang berjalan, kebutuhan akan kerja cepat semakin tinggi, dll.

Sukses itu 1% harapan dan sisanya adalah usaha. Nggak tau deh ini kata siapa yang penting kurang lebih gitu quote nya. Terlalu malas mencari asal usulnya LOL.

Contoh lainnya lagi adalah Nadhiem Makarim alias CEO Gojek. Dulu pas Gojek baru-baru heboh, aku suka mikir kalo Gojek itu bisa sukses ya karena privilege dari Nadhiem yang lulusan MBA Harvard.

Setelah jadi PNS alias Pegawai Negeri Startup lmao, aku mulai membuka pikiran bahwa kesuksesan startup itu nggak sekedar foundernya lulusan mana. Ada banyak faktor juga. Ya meskipun founder lulusan mana itu juga amat membantu. Tapi ada hal lain yang perlu dinilai juga.

Lagi-lagi, aku mengandalkan momentum di kesuksesan Gojek. Momentum dimana Indonesia sedang gencar era digital, momentum dimana Indonesia capek sama angkutan umum yang kurang memadahi, momentum dimana kebutuhan manusia udah mulai makin tinggi, momentum dimana kawula muda ini pada mager pengennya rebahan aja terus ada makanan dateng (HAYO NGAKU!).

Dari semua kebutuhan itu, ditambah Gojek yang sebelumnya sudah ada meskipun cuma ojek via telfon dan hampir bangkrut, momentumnya pas dan BOOM! Heloooo yunikron!!! *sebar sebar cuan*

Jadi, apakah Nadhiem itu privilege karena lulusan MBA Harvard??

Bisa jadi. Nggak sembarang orang bisa kuliah di MBA Harvard. I mean, dude, it’s Harvard!

Tapi apakah Nadhiem itu dapat privilege buat jadiin Gojek yunikron karena doi lulusan MBA Harvard?

Nggak segampang itu jawabnya. Karena PNS alias Pegawai Negeri Startup itu berdarah darah banget. Apalagi di era tahun 2015 waktu itu dimana regulasi, investasi, dan ranah bisnis tidak seterbuka dan seramai sekarang.

Bisa aja kan dengan title MBA Harvard nya Nadhiem senggol investor di Silicon Valley buat danain Gojek atau mungkin bangun perusahaan sendiri aja di Silicon Valley. Tapi buktinya nggak segampang itu kan. Hidup emang nggak seindah kentut unicorn yang pelangi dan ada pot of gold di ujungnya.

Gojek tetep berdarah-darah. Bertarung melawan regulasi yang belum dibikin. Bertarung melawan demo ratusan pengemudi angkutan umum karena pekerjaannya diambil. Belum lagi pertarungan internal yang nggak kelihatan mata awam macam kita kan.

Jadinya privilege ga itu Gojek punya CEO MBA Harvard?

__

Apakah Bill Gates itu privilege karena doi terlahir di keluarga yang lumayan berada?

Bisa jadi.

Tapi apakah Bill Gates mendapat privilege untuk mendapat kesuksesannya sekarang?

Menurut kacamataku sih enggak.

Padahal aku nggak pake kacamata gengs.

Pendidikan yang layak, buku buku pengetahuan, kesehatan, dan sekolah yang dibilang Bill Gates adalah privilege-nya merupakan hak semua anak. Itu hak dia kok. Jadi ya aku nggak melihat itu sebagai previlege. Karena aku juga mendapatkan hal itu semua.

Tapi kalo dilihat dari kacamata anak yang tinggal di negara miskin yang jangankan sekolah, nanti siang makan apa aja dia nggak tau, bisa jadi apa yang didapatkan Bill Gates itu privilege bagi mereka. Karena mereka belum tentu mendapatkan sekolah atau pendidikan yang layak.

Jadi privilege itu dari kacamata siapa?

Privilege itu punya siapa?

___

Bisa nonton Netflix aja sepertinya jadi privilege bagiku dibanding orang yang nggak bisa nonton Netflix.

Tapi sejauh ini aku nggak pernah ngerasa kalo seseorang itu bisa sampai di tahap hidupnya sekarang karena dia sepenuhnya privilege. Karena aku percaya mereka bekerja keras untuk tahap hidupnya sekarang.

Satu-satunya yang aku anggap privilege penuh adalah Olivia Jade karena dia bisa masuk ivy league lewat jalur bribery dan tetep eksis belanja belanji barang branded. LOL

Ada lagi yang merasa privilege nih. Nyonya Malas ngerasa dia previlege karena dikelilingi keluarga yang well educated banget, bisa masuk STAN, dan bisa jadi PNS di usia 20 tahun. Menurut kalian Nyonya Malas privilege ga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *