Tentang Gadget dan Anak

Saat pulang dari berburu buku di BBW Surabaya, aku iseng nanya ke suami:

“Mas, sebagai anak teknik elektro, kamu setuju nggak sih kalau ada yang bilang gadget bisa memancarkan radiasi yang merusak otak anak?”

Sejujurnya pertanyaan ini sudah menghantuiku dari lama. Aku sampe googling pengaruh radiasi handphone ke bayi loh. Bahkan ada tuh yang bikin level penyerapan radiasi atau SAR Value tiap merk handphone. Aku sampe pelototin satu satu merk HP nya.

Radiasi, HP, Otak anak, perkembangan anak, blebleble itu selalu muncul di artikel media hula hula dengan sumber yang nggak kuat. Tapi karena pemilihan headline mengerikan ditambah kebanyakan netizen Indonesia yang kemampuan literasinya rendah, viral deh itu artikel dan akhirnya banyak sekali Ibu Ibu yang takut mengenalkan anak dengan gadget.

Aku yang awam soal radiasi ini sampe sebel. Tiap pegang hp udah diomelin duluan “jangan pegang HP melulu! nanti kena radiasi!” Aduh apa sih dikit-dikit radiasi pusing deh ini Indonesia bukan Chernobyl ya tolong. šŸ™

Karena aku awam, makanya aku tanya ke suamiku dari sudut pandang anak teknik elektro. Ternyata dia jawabnya:

“ya nggak dong. kan gelombangnya beda.”

“gimana gimana? bahasa manusia, please”

“HP, iPad, TV, Microwave, pokoknya semua alat elektronik tuh ada gelombangnya. jenis gelombang mereka masuk gelombang yang aman. Makanya nggak berdampak secara langsung ke tubuh. Beda dengan gelombang yang dihasilkan X-Ray dan USG, gelombang cahaya dan suara dalam jumlah besar bisa berdampak langsung ke tubuh.” (ini penjelasan versi gampang dicerna, penjelasan teknikalnya ada kok. Sila googling soal perbedaan gelombang elektromagnetik, radio, suara, dan cahaya yang digunakan pada alat elektronik)

I KNEW IT!

ekspresiku langsung kaya gitu. Rasanya merdeka aja soalnya kalo ada yang bilang “awas radiasi blebleble” aku bisa sanggah dengan data! LOL.

Dari dulu aku emang sangsi tiap ada yang bilang kalau radiasi HP membahayakan otak anak. Karena ya kok agak nggak masuk akal gitu loh. Kalau emang radiasi HP berbahaya banget kan pastinya kita-kita yang udah bertahun-tahun pakai HP ini udah banyak yang tumbang nggak berumur panjang dong.

Lagipula, nggak cuma HP. Ada ribuan gadget yang memancarkan radiasi. Misalnya saja iPad, XBox, PlayStation, Smart watch, bahkan walkman jaman jadul tuh juga termasuk gadget. Jangan lupa juga mainan kekinian anak-anak, Hafiz Quran atau Hafiz Doll itu juga gadget loh. Jadi kalau anak pegang HP diomelin soal radiasi, harusnya hal yang sama terjadi ketika anak pegang Hafiz Quran atau Hafiz Doll dong. Kan sesama gadget juga.

Soal radiasi, nggak usah jauh-jauh. AC, TV, Kulkas, Microwave, Komputer, semua alat elektronik itu punya gelombang elektromagnetik. Ada radiasi juga. Sebelum bilang “jangan pegang HP nanti kena radiasi” coba nih kamu lepas dulu dari semua alat elektronik baru boleh ngomong gitu lmao.

“Jadi kamu setuju nggak mas kalau HP itu tidak menyebabkan bahaya pada anak?”

“Ya setuju… Ya enggak”

“Loh gimana?”

“Secara langsung memang gelombang dari alat elektronik nggak berdampak ke tubuh. Tapi secara nggak langsung bisa berdampak juga. Misalnya si anak main game melulu di HP sampe lupa tidur, lupa makan, dan kelelahan. Alhasil kan sakit dia. Itu dampak secara nggak langsung.”

Kalau dipikir bener juga kan. Mengenalkan gadget ke anak juga perlu strategi.

Aku sudah berencana mengenalkan anakku ke gadget sejak dini. Alasannya sederhana, Gen Z ini akan sangat bergantung pada gadget nantinya. Gadget ini sudah seperti shortcut mereka. Tentunya aku nggak bisa denial dengan menjauhkan anak dari gadget hanya karena teori radiasi halu kan. Tapi aku juga nggak mau anakku jadi gadget freak. Makanya mengenalkan gadget kepada anak ada strateginya.

1. Bedakan Antara Gadget dan Konten

Salah satu kesalahan fatal mengenalkan anak dengan gadget adalah mengidentikkan gadget dan konten. Padahal 2 hal ini berbeda loh. Tidak perluĀ langsung kenalkan konten yang ada di gadget. Cukup kenalkan gadgetnya aja.

Gampangnya gini, Tunjukkan ke anak bahwa benda ini namanya handphone. Apa saja fungsinya? bisa dipakai telfon, video call, mengenal angka dengan kalkulator, membaca SMS, Mengetik huruf lewat SMS, bahkan bercermin. Itu handphone, tanpa ada paket data ataupun internet sudah bisa jadi gadget yang bermanfaat buat anak.

Mau lebih expert lagi? HP nya dibongkar ditunjukin mana screen, mana kamera, mana baterai, mana chip processor, nahlo ektrim nggak. LOL

Beda cerita kalau mengenalkan gadget lewat konten. Salah satu konten yang ada di dalam gadget adalah Youtube. Pas HP nya dikasih ke anak tapi bilangnya “nih nonton youtube”. Yaudah seterusnya dia hanya tau kalau gadget itu cuma youtube.

Nah membedakan mana yang gadget dan mana yang konten ini menurutku penting. Biar anak tau batasan. Kalau anaknya di atas 2 tahun, ya boleh lah sekali-sekali nonton youtube. Tapi kalau di bawah 2 tahun udah dikasih tau youtube kan ya kasian. There’s so much to explore in a gadget loh. Nggak cuma youtube.

Aku termasuk idealis banget soal ini. No screen time. Pegang HP buat mainin home button, kamera, atau lihat videonya dia sendiri. Nonton youtube hanya saat darurat. Darurat nih misalnya aku harus ke kamar mandi dan nggak ada yang jagain Gladys.

Itupun acaranya aku pilih dan nontonnya dari TV bukan dari HP. Semata-mata buat menghindari biar dia nggak bingung kalau gadget isinya nggak cuma youtube.

Pernah kok nonton youtube lewat HP. Tapi hanya saat darurat level siaga 2. Misalnya saat di mobil lagi perjalanan mudik dan terjebak macet. Ketika semua cara dan godaan udah nggak mempan, baru deh dibolehin nonton youtube lewat HP. Itupun nggak boleh pegang sendiri wqwq.

Tapi aku sadar kok kalau tidak semua orang punya fortune sepertiku. Bisa membedakan nonton youtube di TV atau HP dan bisa disiplin buat no screen time. Wajar guys. Jadi Ibu memang capek dan kita butuh kewarasan. Oleh karena itu di HP ada fitur Flight Mode.

2. Flight Mode atau Mode Terbang

Untuk kalian yang tetap ingin idealis no screen time tapi ingin anak tetap mengenal gadget, Bisa pakai flight mode ini. Sinyal langsung mati tapi HP tetap nyala. Jadi anak bisa explore tentang gadget tanpa harus lari ke youtube.

Kalau beruntung, kalian bisa melatih anak kalian main kamera. Jadi bisa diminta tolong buat fotoin Ibunya demi eksistensi instagram lmao. eh ini ngomong apa.

3. Pakai Game Edukasi

Ini buat anak yang udah gedean. Aku sendiri belum pernah coba, tapi sudah dipraktekkan oleh sepupuku ke anaknya. Jadi daripada mengenalkan youtube, anak dikenalkan dengan game edukasi. Contohnya game tebak kata yang ada gambarnya tuh.

Kaya gitu kan bermanfaat banget ya. Anak jadi nambah kosa kata baru sedangkan dia juga nggak kecanduan gadget. Kalau sudah selesai main, yaudah dimatikan HP nya. Karena game edukasi itu sifatnya terbatas. Biasanya kalau udah naik level dan nemu level yang agak susah anak jadi mikir.

Beda sama Youtube. Informasinya tak terbatas. Selesai satu video masih jutaan video lain yang bisa ditonton. Tinggal klik klik aja kan gampang.

Jadi nggak perlu takut mengenalkan gadget ke anak. Gadget tuh akan menjadi bagian hidup mereka di masa depan. Pakai strategi yang tepat pasti anak akan melihat gadget sesuatu yang positif juga.

Ini murni bukan artikel layanan masyarakat. Hahaha.

Cuma mengingatkan aja kalau kita sebagai orang tua, kalau bisa, harus jadi orang pertama yang mengenalkan gadget dan batasannya ke anak. Kalau anak mengenal gadget dari sumber lain takutnya dia jadi nggak tau batasan dan malah salah aturan.

Karena kalau terlanjur kecanduan gadget, dampaknya berat loh buibu.Kalau kata Nyonya Malas sih, tegas dalam gadget ini agar anak menjadi “manusia yang utuh”. Maksudnya menjadi manusia yang perkembangan sosial, emosi, fisik, dan motoriknya berkembang dengan baik. Coba deh baca cerita Nyonya Malas soal ini di link berikut. Eye opening banget loh.

Pada akhirnya gadget akan menjadi sahabat anak-anak kita sebagai generasi Gen Z ini. Jadi nggak bisa kalau sepenuhnya menolak gadget untuk mereka. Tapi jangan kebablasan juga ngenalin gadget ke anak.

Sebagai penutup, aku mau kasih info aja kalau kecanduan gadget pada anak juga bisa menyebabkan gangguan mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *