The Peanut Butter Falcon

Minggu ini kolab dengan tema yang cukup aneh.

Kak Ela dari NyonyaMalas menceritakan tentang lagu Marron5 berjudul Memories yang kebetulan lagi sering banget dia dengerin dan kemudian ia dapat flashback memori dan beberapa hal yang membuat dia berpikir ulang.

Aku sendiri baru denger lagu Memories sekali pas awal rilis. Jadi nggak ngena banget ke aku. Lagian aku lebih sering denger Mary Had a Little Lamb ketimbang lagu hits masa kini. hiks. Jadi, kolab kali ini mau nulis apa yang lagi catchy di kita dan apa yang ngena gitu.

The Peanut Butter Falcon.

Waktu nonton ini aku nggakpunya ekspektasi apa-apa. Mengingat aku ini orangnya kalau nonton film selalu ada ekspektasi. Entah pengen ketawa, pengen nangis, atau sekedar pengen nyari recehan cerita. Tapi setelah nonton The Peanut Butter Falcon, hati ini rasanya adem.

Sudah jarang film bergenre adventure drama di Hollywood. Jadi The Peanut Butter Falcon ini cukup memberi angin segar buat penggemar film adventure drama.

Tyler, yang menjadi tokoh utama di film ini membuatku sadar kalau bahkan orang yang punya segudang dosa dan selautan aib pun masih bisa menjadi ‘cahaya’ untuk orang lain.

Abis nonton tuh jadi mikir meskipun ada orang yang punya ratusan kesalahan, pasti dia masih punya kesempatan untuk berbuat baik. Ya meskipun di kenyataan jarang orang kaya gini ya. Tapi bisa jadi cara dia membalaskan kesalahan masa lalunya bukanlah kepada orang yang dia sakiti. Melainkan kepada orang lain. Seperti Tyler kepada Zac.

Kalau diingat-ingat lagi, memang ada momen di hidup ini dimana kita melakukan kesalahan, tapi kita tidak meminta maaf atau bahkan kita denial telah melakukan kesalahan.

Akupun juga punya kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bahkan kalau dingat-ingat ya, dulu aku terlalu ‘kanak-kanak’ untuk mengakui bahwa aku salah dan malah melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi bersyukur karena Allah masih saja memberi kesempatan untuk menebus kesalahan lewat jalur lain.

I paid the price and I moved on.

Di sisi lain, El yang juga salah satu tokoh di film, menunjukkan sisi lain. Dia pintar, baik, dan loyal tapi kebaikannya justru membuat orang lain tersiksa. Sedikit spoiler, Zac yang merupakan anak down syndrome merasa kesal dengan El karena El tidak membiarkannya keluar dari panti jompo. Zac sama sekali tidak kenal dunia luar, tidak mendapatkan stimulasi apapun, bahkan El menyediakan semuanya untuk Zac. Urusan makan aja diatur. Kadar gula, kadar lemak, semuanya dia rela melakukan untuk Zac.

Memang El sangat baik, tapi tanpa sadar ia juga membuat Zac menjadi pribadi yang ‘tumpul’. Dalam sudut pandang El, ia melakukan kebaikan untuk Zac. Tapi bagi Zac, ia merasa dikekang.

Kadang emang ada juga momen dimana kita mikir kita ini baik, tapi ternyata yang kita lakukan adalah baik versi kita. bukan versi orang lain. Seperti El yang merasa mengatur semuanya buat Zac adalah baik padahal malah membuat Zac tidak mendapatkan stimulasi. Padahal Zac sendiri sudah berusia 22 tahun dan selama 2 tahun dia nggak pernah sekalipun keluar dari panti jompo.

Balance. Seimbang.

Hidup memang perlu seimbang. Kita berbuat baik, tapi orang lain melihat kita sebagai orang yang tidak baik. Kita berbuat jahat, tapi selalu ada kesempatan untuk berbuat baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *