Tutorial Anti Hoax

Apa hoax pertama yang pernah kalian dapat?

Sejauh yang aku ingat, hoax pertamaku adalah video viral ikan pari yang katanya adalah anak perempuan dan dikutuk oleh Ibunya karena durhaka.

Kata siapa? Mbuh siapa yang bilang. Tapi ya banyak anak seumuranku yang percaya waktu itu. LOL!

Kalau ditarik lebih jauh lagi, hoax yang aku terima bukan dalam bentuk digital. Tapi dalam bentuk ucapan. Seperti contohnya dulu ketika aku kecil dan masih suka main layangan -ciyaelah-

Aku punya teman yang ke GR an banget kalau ada cowok yang ngajakin ngobrol dia. Sampai suatu hari, ada cowok yang dia taksir ngajak ngobrol dan woah dia freak out. Mulailah dia menyebar berita kalau dia ditaksir lah di PDKT in apalah blablabla. Dia cerita berita ini intens banget sampe berita ini levelnya bukan sekedar rumor. Sampe didengar guru-guru dan makin panjang urusan hingga jatuhnya jadi hoax yang menyebar.

Growing up I just realized that it was stupid. Lmao.

Jadi apa sih hoax?

Berita palsu atau berita bohong atau hoaks (bahasa Inggris: hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan rumorilmu semu, maupun April Mop.

Dan kenapa kok kita ini gampang banget sebar hoax?

Buat memahami jawaban dari pertanyaan ini, kita perlu tarik kebelakang buat belajar sejarah.

Hoax itu sebenernya udah ada sejak dulu. Bahkan jauh sebelum ada dunia digital. Bermula dari cerita yang dibesar-besarkan dan ditambahi plot twist sana sini. Padahal ya nggak se wah itu sebenernya.

But we love something wah kan? Kita suka yang wah wah dan kita suka yang lebih lebih. Jadi ya kita hore hore aja.

Buktinya, dulu jaman SMS chain yang bunyinya “kalo kamu nggak sebar ini ke 7 orang temenmu kamu akan miskin selamanya” kalian percaya aja. HAYO NGAKU!

Padahal kalo dibaca di bagian tanda petik diatas kelihatan kalo halu banget kan. Sayangnya di awal SMS ditambahi cerita cerita horror yang bermain dengan psikologi pembaca. Kemudian di akhir ditambahi testimoni daftar orang orang yang miskin selamanya. like wtf. -_-

Halu bangettttt amit amit. Yang bikin sms kaya gitu dulu siapa sih kok nganggur amat jadi orang. Aku curiga yang mulai orang provider telekomunikasi biar orang orang kirim terus dan pada beli pulsa. HUVT.

Balik lagi kenapa kita gampang sebar hoax.

Pas lagi merencanakan cerita ini sama kak Ela, kebetulan mba annisast bikin IGS seputar teori kultivasi. Yang mana kalau dibaca masuk juga ke fenomena dunia digital. But I will get into that later.

Alasan kenapa gampang sebar hoax buatku adalah karena kita sedang cultural shock sama teknologi atau bisa dibilang technology shock.

Technology shock adalah perubahan drastis pada teknologi yang mampu merubah ekonomi, budaya, sosial dll.

Apanya yang drastis? Indonesia kan belum canggih.

Ya. Tapi punya internet merupakan hal yang cukup canggih buat Indonesia yang dulunya sibuk romusha.

Dari yang awalnya tidak ada internet kemudian hadirlah internet. Dari yang awalnya cuma menanam padi di sawah setiap hari kemudian hadirlah internet yang membawa ribuan informasi.

Jet lag. Technology shock.

Sama seperti kita yang pertama kali keluar negeri dan negara yg kita tuju adalah negara beradab self independent. Culture shock langsung gengsss.

Canggihnya akses informasi tidak diimbangi dengan mental yang mumpuni. Ibaratnya iPhone 3GS kamu install iOS 13. Zonk deh.

Mental yang mumpuni seperti apa? Yaah minimal rajin membaca dan kroscek fakta.

Untungnya hal ini adalah hal yang wajar di semua negara. Yang nggak wajar, kok di negara kita masih banyak aja ya yang shock sejak Internet masuk Indonesia awal tahun 90an. -_-

come on guys, it’s been 20 years!

Atau mungkin nggak total 20 tahun, tapi 10 tahunan kali ya? Karena internet benar-benar baru bisa di akses semua kalangan rakyat kan baru 10 tahunan.

Mungkin hal ini bisa dijelaskan oleh teori kultivasi yang ditulis oleh kak annisast.

Pada dasarnya, Teori kultivasi adalah teori sosial yang meneliti efek jangka panjang dari televisi pada khalayak. teori ini merupakan salah satu teori komunikasi massa. Tujuan dari proyek Indikator Budaya ini adalah untuk mengidentifikasi efek televisi pada pemirsa.

Jadi Teori kultivasi nih meneliti apa yang terjadi kepada massa setelah ditunjukkan konten konten atau berita yang ada di TV secara terus menerus. Aku bukan anak jurnalistik tapi seingatku kak annisast menjelaskan bahwa dengan teori ini, diambil kesimpulan bahwa mereka yang terlalu sering menonton TV, percaya bahwa semua hal yang ada di TV itu benar. CMIIW.

Hal ini berlaku juga di social media, computer, pokoknya internet. Keseringan main internet sampe percaya semua yang ada di internet. Bahkan sampai percaya kalo susu Bear Brand bisa beneran bikin kulit putih. Ckckck.

Balik lagi ke technology shock kan. Internet masuk Indonesia tidak diimbangi kesiapan mental rakyatnya. Sehingga Internet menjadi hiburan rakyat yang tanpa sadar banyak sekali orang menghabiskan waktunya di social media, sampai percaya dengan apa yang dikatakan internet tanpa cek data dan fakta.

Gampangnya, orang-orangnya aja baca buku aja jarang ehhh tau tau disuguhi informasi lewat internet. Kemampuan memproses data dan cek fakta masih tumpul, langsung di bombardir informasi yang wah wah dari internet. Yahh begitulah. Akhirnya banyak yang kena hoax karena asal percaya berita internet tapi terlalu malas buat cek faktanya.

Lalu apa yang harus dilakukan agar kita dan anak anak kita nggak terjebak hoax lagi?

1. Cari sumber lain.

Selain dunia maya, jangan lupa kalau ada juga dunia nyata. Jadi ketika kita mendapat informasi dari dunia maya yang diragukan kebenarannya, coba cari data pembanding lain. Bisa lewat buku, tanya ke orang yang lebih expert, atau koran misalnya. Pokoknya cari sumber lain sampai kita benar-benar yakin dengan informasi yang kita terima.

2. Proses semua informasi yang kita terima.

Semakin banyak informasi yang kita terima, biasanya makin bingung juga kita. Jadi ada baiknya kita memproses informasi yang kita terima secara perlahan.

Kalau aku biasanya pakai common sense. Setelah mencari sumber sumber lain biasanya aku akan pakai common sense tentang mana yang paling masuk akal buatku.

3. Tahan diri.

Kalau masih belum yakin informasi tersebut benar atau tidak, tahan diri. Jangan sembarangan share atau menyebar luaskan tanpa ada bukti konkrit.

Paling tidak 3 langkah di atas merupakan langkah paling mudah agar kita nggak gampang terkena hoax dan menyebarkan hoax.

Technology shock memang benar-benar bisa merubah seseorang hingga 1 negara. Contohnya ketika revolusi industri pada abad 18-19 an. Pada masa ini, technology shock besar-besaran sedang terjadi sehingga mempengaruhi agrikultur, arsitektur, pemerintahan, ekonomi, hingga sosialisasi masyarakat. Dari yang nggak ada listrik jadi ada listrik, nggak ada telepon jadi ada telepon, dari nggak ada pesawat jadi ada pesawat. Pokoknya gila-gilaan banget.

Jangan dikira kalau hoax tidak ada pada saat itu. Tentu saja ada kelompok yang menganggap perubahan ini berbahaya. Tapi mereka kalah dengan realita. Kenyataan bahwa technology shock saat itu lebih mengarah ke positif membuat kelompok yang menganggap teknologi berbahaya menjadi semakin susut.

Perjalanan technology shock ini masih panjang. Karena suka atau tidak, teknologi berkembang sangat cepat. Jika tidak dibarengi dengan kemampuan memproses informasi dari masing-masing individu, mudah sekali kita terpecah.

Nyonya Malas juga berbagi seputar pandangannya tentang penyebaran hoax dan bagaimana orang-orang bisa tiba-tiba menjadi ahli dalam segala hal di internet. Padahal zonk aja. Kalau kak Ela sebutnya “orang awam yang mengalahkan pakar” aku sih sebutnya “Master of None”.

Kenapa? Karena pas lagi hits Jokowi, yang dibahas Jokowi melulu. Pas lagi Hits Via Valen, yang diulas Via Valen melulu. Pas lagi hits Didi Kempot, Yang dikritik Didi Kempot melulu. Padahal dia nggak pernah tau apa itu politik, apa itu dangdut, apa itu keroncong. Cuma sekedar ngomong. Yep, Master of none.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *